METODE MUDAROSAH page 2
(3) Ustadz pembimbing membentuk kelompok yang
beranggotakan tiga santri membentuk sebuah halaqoh.
Dengan demikian santri lebih fokus dan konsentrasi.
Dengan berkonsentrasi waktu dan kesungguhan yang dibutuhkan saat menghafal menjadi lebih sedikit
dibandingkan saat tidak berkonsentrasi.
(4) Takrir, Yaitu satu persatu dari santri yg sudah
dikelompokan, untuk membaca berulang – ulang antara 7
kali sampai sebelas kali. Takrir dimaksudkan untuk
menghafal ayat demi ayat,atau kalimat demi kalimat yang
dirangkaikan sampai satu halaman. Takrir ini dilakukan
secara bergantian, satu santri membaca ayat dengan
mushaf, sementara santri yang lain menyimak.
(5) Memperhatikan Ayat Mustasyabihat. Ayat Mutasyabihat
adalah ayat ayat yang mempunyai kemiripan redaksi
antara satu dan lainya. Dalam Al-Qur’an terdapat banyak
ayat ayat mutasyabihat yang sering mengecoh seorang
penghafal. Jika tidak diperhatikan betul, seorang penghafal
akan beralih pada surah yang lain. Oleh karena itu,
sebaiknya penghafal mempunyai buku catatan kecil
tentang ayat ayat mutasyabihat ini pada buku khusus agar
supaya mendapat perhatian lebih.
Menurut pandangan seorang guru besar pakar
bidang qiraat dan ilmu ilmu Al-Qur’an, yaitu Dr. K.H.
Ahsin Sakho Muhamad, bahwa adanya ayat ayatmutasyabihat memiliki kaedah sebagai berikut : Pertama,
Al-Quran mampu membuat redaksi yang berbeda beda,
namun tidak mengurangi nilai sastranya yang tinggi.
Kedua, agar para penghafal Al-Qur’an selalu
berkonsentrasi dengan apa yang ia baca, baik untuk
mengingat redaksinya ataupun artiya. Sebab jika tidak
berkonsentrasi ia akan terseok-seok kemana mana.
(6) Menggunakan satu Mushaf dan tidak mengganti gantinya.
Untuk memperlancar menghafalkan Al-Qur’an
menggunakan metode mudharosah para santri diharuskan
menggunakan Mushaf pojok. Mushaf pojok adalah AlQur’an yang pada ujung atasnya diawali dengan
permulaan ayat dan berahir diujung bawahnya dengan
akhir ayat. Mushaf Al-Qur’an yang seperti ini dicetak oleh
percetakan Raja Fahd bin Abdul Azis, Saudi Arabia.
(7) Sorogan kepada Kyai, sorogan artinya tasmi’, yaitu
memperdengarkan hafalan kepada Kyai. Dengan sorogan
ini seorang santri penghafal Al-Qur’an dapat diketahui
kekuranganya, dan sekaligus membenarkan bacaan AlQur’anya sesuai dengan kaidah tajwid dan makhorijulHuruf.
c) Kelebihan/keunggulan dan Kekurangan Metode Mudarosah
Sebagaimana beberapa metode yang digunakan untuk
menghafal Al-Qur’an, metode mudarosah juga memiliki
kelebihan/keunggulan dan kekurangan. Di sini peneliti akan
menyebutkan beberapa saja yang berkaitan dengan kelebihan
dan kekurangan dari metode mudarosah, sebagaimana yang
akan peneliti sebutkan di bawah ini :
(1) Kelebihan/keunggulan metode mudarosah
(a) Menambah konsentrasi santri dalam menghafalkan
Al-Qur’an. Karena dengan adanya teman sebagai
partner menjadikan santri lebih konsentrasi.
(b) Al-Qur’an. Karena dengan menerapkan sistem
kelopok, santri akan lebih bersemangat dalam
menghafalkan Al-Qur’an.
(c) Menambah kedisiplinan dan rasa tanggung jawab
santri. Karena dengan metode mudarosah santri
dituntut untuk tepat waktu dan tanggung jawab pada
hafalan kelompoknya.
(2) Kekurangan dari Metode Mudarosah
(a) Santri terlalu bergantung pada partner kelompoknya.
(b) Adanya ketimpangan pada kecepatan menghafal ayat,
antara santri yang cerdas dengan santri yang
berkemampuan sedang. Sehingga adanya ketimpangan ini dapat menghambat proses
menghafalkan Al-Qur’an.
(c) Waktu yang diperlukan dalam metode mudarosah
terlalu lama dan kurang efesien.
Sumber referensi dari pengasuh Ponpes YANBU'UL ULUM K.Abdul kholik al-hafidz
0 Response to "METODE MUDAROSAH page 2"
Posting Komentar